Sabtu, 27 Februari 2016

RENYAHNYA LABA JADI RESELLER MAKANAN RINGAN

RENYAHNYA LABA JADI RESELLER MAKANAN RINGAN

RENYAHNYA LABA JADI RESELLER MAKANAN RINGAN
RENYAHNYA LABA JADI RESELLER MAKANAN RINGAN
Seorang mahasiswa yang menyukai berjualan musiman, dia mengawali bisnis reseller makanan ringannya dengan jualan secara musiman. Pada tahun 2010, Sebastian memulai bisnis makanan dengan menjual keripik Yen-Yen asli Lampung pada teman-teman di kampusnya. Bisnis reseller makanan ringan yang dilakoni Sebastian diberi nama JS Distribution. Mensiasati modal usaha yang masih sangat terbatas, Sebastian pun hanya berani mengambil 30 pcs keripik dengan harga sekitar Rp 300.000,00 saja. Ia pun bercerita bahwa ia merelakan diri untuk tidak naik lift menuju kelasnya di lantai enam demi mencuri perhatian teman-temannya pada produk yang ia tawarkan. Strategi yang dilakoni Sebastian dalam menjual produknya pun menuai hasil. Omzet bisnis makanan ringan keripik yang ia jajakan di kampus pun mencapai Rp 1.000.000,00 di bulan pertama. Sampai suatu saat, Sebastian bertemu dengan orang-orang pabrik yang memberikan ilmu tentang bisnis makanan. Sejak saat itulah Bastian memutuskan untuk menjalankan bisnis reseller keripik secara berkesinambungan, tidak hanya sebagai bisnis musiman seperti yang dijalankan teman-temannya. Sejak saat itu pula Sebastian mulai melakukan penawaran secara online melalui forum-forum internet, penawaran by email, penawaran ke toko-toko, penawaran secara langsung, dan sebagainya. Hingga kini bisnis reseller keripik yang dilakoninya pun terus berkembang dan penjualan produk yang dijual semakin bertambah.

Setelah 3 tahun menjalani bisnis reseller keripik di sekitar kampus, kini Sebastian sudah mampu mengirimkan barang dagangannya kepada para reseller maupun distributor. Jangkauan bisnis distribusi makanan Sebastian telah tersebar di empat kota besar di Indonesia seperti Bangka, Medan, Jakarta, dan Bali. “Sampai dengan sekarang ini saya terus mencari pabrik atau produsen yang memiliki produk unggulan dan mau menjalin kerjasama dengan saya” ungkap Bastian. Meskipun hanya bekerja paruh  waktu, namun bisnis distribusi makanan Sebastian dapat terus berjalan dengan baik. Ia pun tetap bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dan menggunakan biaya sendiri dari hasil bisnis makanan ringannya.

Selain itu, Sebastian juga termotivasi untuk ikut membantu meningkatkan minat wirausaha masyarakat. Karena Sebastian melihat kurangnya minat wirausaha di Indonesia. Strategi yang Sebastian lakukan dengan cara mendistribusikan produk yang mudah dijual. Dari situlah image positif tentang bisnis akan semakin dominan terutama bagi mahasiswa. Seiring dengan perkembangan bisnisnya, ia berharap ke depan bisnis makanan ringan yang ia jalankan bisa membuat jaringan distribusi. Dimana dalam satu atap bisa ditemukan berbagai macam jenis makanan ringan unggulan Indonesia dan memiliki lebih banyak pelanggan yang sekaligus mau menjadi rekan bisnis. Dengan menjalin kerjasama dengan pabrik, ekspedisi, serta rekan-rekan yang profesional Sebastian semakin optimis bahwa bisnis makanan ringan yang dijalankannya bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

Setiap usaha pastinya akan ada kendala yang harus dilalui, demikian juga dengan bisnis makanan ringan ini. Kendala utama dalam bisnis reseller makanan ringan terdapat pada ekspedisi. Terkadang sulit mencari ekspedisi yang tarifnya sesuai dengan keinginan pelanggan, karena biasanya pelanggan ingin menjual kembali barang dagangan atau keripik tersebut. Kendala yang kedua adalah sulitnya memprediksi barang tiba ke pelanggan dengan tepat waktu, terlebih lagi pada saat cuaca buruk. Hal itu tentu saja bisa mengurangi kepercayaan pelanggan.

Kunci kesuksesannya yang kedua adalah think creative and be positive. “Berfikirlah tentang bagaimana caranya memenangkan persaingan, bagaimana menjalankan bisnis agar terus berkembang. Jangan pernah memikirkan kegagalan, pikirkanlah strategi untuk meraih kesuksesan!” tambah Sebastian.

0 komentar:

Posting Komentar