Selasa, 29 Maret 2016

Membuka Warung Makan Oseng-Oseng Mercon

Membuka Warung Makan Oseng-Oseng Mercon

Membuka Warung Makan Oseng-Oseng Mercon
Membuka Warung Makan Oseng-Oseng Mercon
Jika anda adalah salah satu penggemar wisata kuliner, rasanya kurang lengkap kalau belum menikmati salah satu alternatif kuliner tradisional Yogyakarta yang sesungguhnya sangat beragam mulai dari lokasi, jenis, rasa, hingga harga. Terkadang kendala para penggemar wisata boga ketika ingin menyantap hidangan di Yogya adalah citarasa makanannya yang rata – rata manis, asin, gurih. Namun sebenarnya ada warung yang menyajikan makanan yang tidak menampilkan citarasa manis sama sekali.Adalah Bu  Kardi yang pertama kali memulai memperkenalkan jenis masakan ini pada tahun 1965, pada awalnya adalah uji coba terhadap makanan sisa hasil olahan warung sebelum ini, namun dipadu dengan bumbu rahasia yang kemudian lebih dikenal dengan nama Oseng – oseng Mercon.
Sebutan oseng – oseng mercon sendiri berasal dari konsumen yang menjadi pelanggannya  karena pesona rasa pedasnya yang meledak – ledak layaknya mercon, namun tetap memberi citarasa  nikmat yang khas. Seperti mercon ( petasan / kembang api ) yang berada di mulut, ketika menikmati oseng – oseng ini. Menu oseng yang ditawarkan ini memang berbeda dengan oseng pada umumnya yang kebanyakan menyajikan daging ayam sapi ataupun kambing sebagai bahan baku, namun Bu Kardi menggunakan bahan baku utamanya adalah kikil sapi, bagian dari sapi yang umumnya dibuat soto ataupun pelengkap tumis.” Warung Makan ini merupakan warisan dari orang tua saya. Dulu ketika saya masih kecil, saya pun turut membantu orang tua berjualan disini ( dirumah ini ) ” kenang Bu Sunarmi.
Layaknya memasak oseng – oseng, bahan baku kikil sapi dimasak dengan minyak goreng dan ditumis, namun untuk menambah citarasa diberi tambahan bumbu rempah semisal bawang putih, bawang merah, jahe, laos dan direbus selama kurang lebih 1 jam dengan cabe rawit yang telah ditumbuk halus. Setiap harinya setidaknya 10 kilogram kikil sapi diolah untuk memuaskan para pecinta kuliner pedas. Untuk menikmati satu porsi masakan ini hanya dipatok harga 6000 rupiah yang sudah disajikan dengan nasi putih dan krupuk rambak sebagai penetral rasa pedas. Rasanya?? sebagai pengolah oseng – oseng pertama di Yogyakarta tidak perlu diragukan, namun sebaiknya anda bersiap dahulu tisu untuk mengusap peluh yang bercucuran dan bersiaplah  lidah anda untuk meledak kepedasan.
Warung oseng – oseng mercon ini  masih dikelola secara tradisonal, sehingga tidak salah jika pelanggannnya ada yang telah selama 20 tahun  tetap setia menikmati sajian warung ini, karena meskipun kini dikelola oleh generasi kedua yaitu Bu Sunarmi sebagai koki utama dan Bu Sumarti sebagai manajer, namun racikan bumbu serta pelayanan tetap terjaga seperti dahulu.


0 komentar:

Posting Komentar